Umar Bin Abdul Aziz Dalam Kenangan Raja Romawi Dan Para Komandan Pasukan


Umar bin Abdul Aziz pernah mengutus serombongan utusan ke raja Romawi untuk sebuah urusan kemashlahatan ummat Islam, serta kebenaran yang hendak ia sampaikan kepadanya. Ketika para utusan masuk kedalam istana, ada seorang penerjemah sudah berada disana. Raja Romawi duduk diatas singgasananya. Mahkota bertengger glamor dikepalanya. Sedang disamping kiri dan kanannya ada beberapa pengawal. Orang-orang beruntut didepannya sesuai dengan jabatan mereka. Setelah maksud kedatangan disampaikan kepadanya, ia menanggapi dengan ramah dan menjawab dengan baik. Kemudian mereka meninggalkan ruangan pertemuan hari itu.

Keesokan harinya, datanglah seorang utusan raja menemui para utusan Umar bin Abdul Aziz, meminta mereka untuk hadir di daerah pertemuan kemarin. Ketika mereka memasuki ruangan, mereka melihat posisi raja berubah tak ibarat kemarin. Ia turun dari singgasananya. Mahkota glamor dilepas dari kepalanya. Raut wajah dan bahasa tubuhnya sangat berbeda dengan kemarin. Seolah-olah ada peristiwa alam besar yang menimpanya.

"Tahukah kalian, kenapa saya memanggil kalian kesini?" tanya raja Romawi kepada para utusan Umar bin Abdul Aziz.
"Tidak tahu." jawab mereka.
"Sesungguhnya salah seorang dutaku di Arab telah mengirimkan surat yang mengabarkan bahwa, raja Arab yang shalih telah meninggal."
Para utusan Umar itupun tak kuasa membendung air matanya dikala menerima berita, ternyata Umar yang mengutus mereka telah meninggal.
"Untuk apa kalian menangis? Untuk agama kalian atau untuknya?" tanya Raja Romawi.
"Kami menangisi diri kami, agama kami dan juga menangisinya." jawab para utusan Umar bin
Abdul Aziz.

Raja Romawi berkata, "Janganlah kalian menangisinya. Tangisilah diri kalian. Sungguh ia telah meninggalkan kebaikan. Ia khawatir meninggalkan ketaatan pada Allah, alasannya yaitu itulah Allah tidak mengumpulkan dalam dirinya ketakutan pada dunia dan ketakutan pada-Nya. Telah hingga kepadaku kabar ihwal keshalihannya, keutamaannya dan kejujurannya. Sungguh saya menyangka, bila ada orang yang sanggup menghidupkan orang mati sesudah Isa, maka orang itu yaitu Umar.

Berita-berita tentangnya pun telah kuketahui, dengan teran-terangan maupun tidak. Maka saya tidak mendapati urusan hubungannya dengan Tuhannya kecuali satu hal, yaitu dalam kesendirian ia lebih meningkatkan ketaatannya pada Tuhannya. Aku tidak kagum pada para pendeta yang mereka meninggalkan dunia untuk menyembah Tuhannya di dalam ruang ibadahnya. Namun saya lebih mengagumi Umar yang mana dunia telah terang ia miliki namun ia tetap tidak tergiur padanya, sehingga ibarat seorang pendeta. Sungguh, orang baik itu tidak banyak ibarat banyaknya orang tidak baik."

Belum ada Komentar untuk "Umar Bin Abdul Aziz Dalam Kenangan Raja Romawi Dan Para Komandan Pasukan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel