Makhluk Terkecil Yang Memiliki Kemampuan Diluar Batas


Oleh Dr. Hanny Rono

Pada tahun 2013 sebuah tim adonan peneliti yang dipimpin Nora Noffke menemukan fosil basil pada sedimen watu di distrik Pilbara Australia yang diklaim sebagai fosil basil tertua yang pernah ditemukan menurut perhitungan jejak karbon berusia mendekati 3,5 miliar tahun, yang berarti basil sudah ada 1 miliar tahun semenjak bumi terbentuk, jauh sebelum ada oksigen di muka bumi.

Penemuan ini mengungkapkan daya tahan dan kemampuan bertahan hidup yang sangat tinggi dari sebuah mikroorganisme kasat mata. Kapabilitas super hebat ini tentunya dibekali oleh keahlian dan kecerdasan intelejensia super yang ada di dalam badan mereka. Beberapa penelitian sudah menerangkan eksistensi kecerdasan intelenjensia dari basil ini, di antaranya:

KEMAMPUAN ADAPTASI SUPER FLEKSIBEL

Hasil studi tahun 2013 oleh Michael Y. Pavlov dan Mans Ehrenberg dari Uppsala Universitet, Swedia, mengungkapkan basil punya kemampuan pembiasaan yang tinggi dan cepat dengan perubahan lingkungan di sekitarnya baik perbedaan komposisi ketersediaan nutrisi yang ada di sekitarnya ataupun lingkungan hidupnya yang berubah secara ekstrim drastis.

Studi ini menyebutkan, basil punya kemampuan untuk menyesuaikan kadar enzim protein di tubuhnya dengan kondisi nutrisi di sekitarnya dengan cepat. Oleh alasannya yakni itu tidaklah gila jikalau kita akan menemukan ada basil yang bisa hidup di lingkungan yang bersuhu yang panas menyerupai kawah gunung atau kutub terdingin sekalipun.

KEMAMPUAN DESAIN ULANG DNA SECARA MANDIRI

Hasil studi tahun 2014 oleh tim peneliti dari Monash University, AS, menemukan sikap basil mengubah struktur DNA diri mereka sendiri untuk menghindari selesai hidup alasannya yakni kekurangan cairan tubuh saat menghadapi perubahan lingkungan yang ekstrim.

Bahkan mereka bisa untuk “menghindar” dari deteksi sistem imun badan dengan mengubah cara struktur protein dalam tubuhnya sendiri. Ketika seseorang terkena infeksi, protein tertentu yang dinamakan antigen biasanya mengeluarkan sinyal peringatan kepada sistem imun badan untuk segera menghancurkan bisul tersebut.

Hasil penelitian tahun 2014 oleh Daniel A. Fox dari University of Virginia, AS. Penelitian ini menyebutkan basil Neisseria meningitidis penyebab penyakit meningitis dan sepupunya, Neisseria gonorrhoeae, penyebab penyakit gonorrhea, diketahui bisa menghindari deteksi antigen dalam sistem imun badan kita. Bahkan salah satu varian dari basil Neisseria gonorrhoeae sudah mencapai status “Superbugs” yang menjadi tahan terhadap obat.

KEMAMPUAN BERTAHAN DARI ANTIBIOTIK

Tahun 2013 tim peneliti dari Hebrew University yang dipimpin oleh Gadi Glaser dan Nathalie Balaban, menyingkap bukti prosedur beberapa jenis basil yang tahan banting (persistent bacteria) dari serangan antibiotik.

Ketika antibiotik diberikan kepada bakteri-bakteri ini, badan mereka mengeluarkan Toxin HipA yang diinterpretasikan sebagai “sinyal fase kelaparan”, sinyal tersebut memicu basil untuk melaksanakan semacam hibernasi atau mati suri. Kondisi terus berlangsung sampai pengobatan antibiotik berangsur-angsur hilang atau selesai, sehabis itu mereka pun bangun kembali untuk melanjutkan acara berbahayanya.

Penemuan mengejutkan lainnya terjadi pula dalam penelitian yang dilakukan oleh Kristoffer S. Winther dari Aarhus University, Denmark, pada tahun 2013, yang menyebutkan saat pengobatan antibiotik diberikan pada basil Mycobacterium tuberculosis penyebab penyakit TBC, mereka merespon dengan menghasilkan toxin VapC20 yang selintas menyerupai agresi bunuh diri.

Toxin ini menjadikan rusaknya pabrik protein Ribosom dalam badan mereka, kondisi ini menjadikan antibiotik tidak bisa menyerang basil ini alasannya yakni kondisi Ribosom yang sudah rusak. Segera sehabis antibiotik hilang, basil ini pun dengan cendekia memproduksi kembali Ribosomnya untuk kembali beraktivitas.

FITUR JAM BIOLOGIS DALAM TUBUH BAKTERI

Bagaimana bisa basil mengatur waktu siklus hidupnya dalam bertahan hidup dan menyesuaikan diri dengan lingkungan ekstrim mereka, jawabannya ada pada jam biologis dalam badan mereka.

Hal ini sebagaimana diungkapkan dalam penelitian pada tahun 2014 oleh Ofer Fridman dari Hebrew University of Jerusalem, bahwa bakteri-bakteri bisa berevolusi dalam sehari bahkan hitungan jam saat dihadapkan pada serangan antibiotik. Saat antibiotik diberikan setiap 3, 5 dan 8 jam, pada masing-masing populasi bakteri, irama evolusi mereka pun mengikuti periode proteksi antiobiotik tersebut.

PENTINGNYA BELAJAR DARI BAKTERI

Fenomena super basil ini setidaknya sanggup menjelaskan beberapa hal kepada kita:
• Bahwa penyakit gres akan selalu ada setiap waktu di setiap jamannya, sehingga penting untuk selalu menjaga kebersihan dan kesehatan badan sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw bahwa higienis itu ibadah;
• Dapatlah dimengerti mengapa usia insan semakin menyusut dari 900 tahun sampai rata-rata hidup 60 tahun, oleh alasannya yakni itu kita sebagai umat selesai jaman harus bisa menjadi insan yang bisa berprestasi setaraf dengan insan yang hidup 900 tahun beribadah;
• Salah satu kunci penting keberhasilan basil yakni “BERPUASA”, yang dengan puasa tersebut, mereka bisa bersabar untuk menjaga keberlangsungan hidupnya. Inilah bukti mikro manfaat berpuasa bagi tubuh;
• Kunci sukses lainnya dari basil yakni “BELAJAR”, yang dengan selalu berguru tersebut, mereka selalu sukses menyesuaikan diri dengan aneka macam macam kondisi lingkungan. Inilah bukti pentingnya bagi kita untuk terus berguru sampai ke liang kubur.

SUMBER:
• Nora Noffke, Daniel Christian, David Wacey, Robert M. Hazen. Microbially Induced Sedimentary Structures Recording an Ancient Ecosystem in theca.3.48 Billion-Year-Old Dresser Formation, Pilbara, Western Australia. Astrobiology, 2013. http://goo.gl/cwH4VZ
• Pavlov, M.Y & Ehrenberg, M. Optimal control of gene expression for fast proteome adaptation to environmental change. PNAS, December 2013. http://goo.gl/YrI3eY
• Monash University . 2014. ‘Clever’ DNA may help bacteria survive. http://goo.gl/YhRI5b
• Daniel A. Fox, Per Larsson, Ryan H. Lo, Brett M. Kroncke, Peter M. Kasson, Linda Columbus. Structure of the Neisserial Outer Membrane Protein Opa60: Loop Flexibility Essential to Receptor Recognition and Bacterial Engulfment. Journal of the American Chemical Society, 2014. http://goo.gl/eHwWxM
• Hebrew University of Jerusalem. 2013. Researchers have breakthrough on how persistent bacteria avoid antibiotics. http://goo.gl/qXUTrO
• Kristoffer S. Winther, Ditlev E. Brodersen, Alistair K. Brown, Kenn Gerdes. VapC20 of Mycobacterium tuberculosis cleaves the Sarcin–Ricin loop of 23S rRNA. Nature Communications, 2013. http://goo.gl/5Vgp8I
• Ofer Fridman, Amir Goldberg, Irine Ronin, Noam Shoresh, Nathalie Q. Balaban. Optimization of lag time underlies antibiotic tolerance in evolved bacterial populations. Nature, 2014. http://goo.gl/AC6IlO
• Image courtesy by NIH/NIAID

Belum ada Komentar untuk "Makhluk Terkecil Yang Memiliki Kemampuan Diluar Batas"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel