Hasil Kajian Ilmiah: Berfikir Itu Pengorbanan Besar


Oleh : Dokter Hanny Rono

Pada tahun 2014, Timothy Wilson dari University of Virginia melaksanakan 11 rangkaian studi penelitian ihwal berfikir. Para partisipan berusia antara 18-77 tahun dan dengan bermacam-macam latar belakang keahlian.

Selama eksperimen berlangsung, para partisipan diminta untuk duduk sendirian sambil berfikir di ruangan kosong selama 15 menit tanpa telepon selular, tanpa membaca dan menulis. Pada eksperimen berikutnya partisipan diminta untuk beraktivitas ibarat biasa tapi tanpa berkomunikasi satu sama lain dengan rentang waktu yang sama ketika ia duduk sendirian berfikir.

Kesimpulan dalam hasil penelitian ini menyebutkan bahwa pada umumnya orang-orang cenderung lebih nyaman menentukan melaksanakan sesuatu ibarat mendengarkan musik atau memainkan smartphone daripada harus menghabiskan waktu sendirian dengan berfikir.

Bahkan tanda-tanda seolah-olah berfikir itu ibarat hal yang berat atau menyakitkan muncul pada sebagian partisipan yang lebih menentukan rasa sakit pada tubuhnya ketimbang berfikir. 12 orang dari 18 partisipan pria memutuskan untuk memakai tombol kejutan elektrik ringan pada tubuhnya selama periode 15 menit berfikir. Hal ini terjadi pula pada 6 orang dari 24 partisipan wanita.

Penilitian ini semakin menguatkan begitu tingginya nilai perjuangan berfikir dalam Islam. Akal atau ”Al-Aqlu” disebutkan sebanyak 49 kali dalam al-Qur’an, yang semuanya dalam bentuk kata kerja “fi’il”. Alat berfikir di dalam al-Quran juga disebut “Al-Qalb”, “Al-Fu’ad”, “An-Nuhâ”, “Al-Hijr”, “Al-Hilm” dan “Al-Lubb” yang semuanya juga berarti nalar fikiran. Sedangkan “Ulul Albab” 10 kali, “Ulin Nuha” 2 kali. Dalam khasanah kebahasaan, pengulangan sanggup diartikan sebagai tingkat pentingnya makna kata yang diulang tersebut. Artinya, semakin banyak kata diulang, semakin penting arti kata tersebut.

Apa yang membedakan berfikir ala seorang muslim ialah memadukan fikir dengan dzikir, yang artinya ia harus menjadi ilmuwan (eksakta) sekaligus sebagai ulama (spiritual) di ketika ia berfikir. Jadi, pengorbanan dalam berfikir seorang muslim itu tiga kali lebih besar tantangannya, sebab perlu semangat untuk mau berfikir, perlu tenaga untuk berfikir, perlu keimanan dan keikhlasan untuk berdzikir. Dan tentunya luar biasa besar imbalan pahala yang didapat dari pengorbanan besar dalam berfikir tersebut. Mungkin inilah yang sanggup menjelaskan dalam beberapa hadits diterangkan bahwa berfikir sesaat lebih baik dari Qiyamul Lail atau ibadah puluhan tahun ( http://goo.gl/xrzeFV )

Begitu pentingnya berfikir bagi insan insan sampai ada predikat mengerikan yang diberikan Allah SWT bagi orang-orang yang tidak mau berfikir:

“Sesungguhnya hewan (mahluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apapun.” (QS. al-Anfaal:22)

“Atau apakah kau menduga bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah ibarat hewan ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari hewan ternak itu).” (QS. al-Furqaan:44)

Sebagai tambahan, Ibnul Qayyim al-Jauziah menyebutkan berfikir ialah pangkal segala kebaikan: “Berpikir akan membuahkan pengetahuan, pengetahuan akan melahirkan perubahan keadaan yang terjadi pada hati, perubahan keadaan hati akan melahirkan kehendak, kehendak akan melahirkan amal perbuatan. Jadi, berpikir ialah asas dan kunci semua kebaikan...” (Miftah Daris Sa’adah: 226)

SUMBER:
- T. D. Wilson, D. A. Reinhard, E. C. Westgate, D. T. Gilbert, N. Ellerbeck, C. Hahn, C. L. Brown, A. Shaked. Just think: The challenges of the disengaged mind. Science, 2014. http://goo.gl/886vLB
- Image courtesy by gosphotodesign / Fotolia

Belum ada Komentar untuk "Hasil Kajian Ilmiah: Berfikir Itu Pengorbanan Besar"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel