Air Dari Langit


Oleh Dokter Hanny Rono

“...dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, kemudian dengan air itu Dia hidupkan bumi setelah mati (kering)-nya...” [QS. al-Baqarah 2:164]

Sudah saatnya bagi anda untuk tidak lagi menyederhanakan makna ayat tersebut sebagai proses sirkulasi hujan di bumi sebagai warisan pengetahuan dari periode ke-18 yang lalu.

Memasuki periode ke-21 para ilmuwan sudah setuju bahwa air dan besi termasuk salah satu unsur yang bukan produk orisinil bumi melainkan ia tiba dari luar bumi.

Jadi gres 1400 tahun kemudian semenjak tertulis dalam al-Qur’an, Allah membukakan pintu sains untuk membuktikan bahwa air benar-benar tiba dari luar angkasa bahkan air awut-awutan di luar angkasa yang membuktikan ia pada awalnya berasal dari sumber yang maha besar kemudian meledak atau menyebar ke seantero jagad raya.

Teleskop di bumi sangat sulit untuk melacak dan mengamati air di luar angkasa mengingat halangan tumpukan air di atmosfer. Sehingga untuk melacak air di luar angkasa perlu mengamatinya ke luar dari atmosfer bumi.

Badan Antariksa Eropa (ESA) pada 14 Mei 2009 meluncurkan Herschel Space Observatory ke luar angkasa dengan dana sekitar 1,1 juta euro, dan 60 hari kemudian tiba di lokasi orbit titik Lagrangian kedua (L2) sekitar 1,5 juta km dari bumi. Hingga masa aktif operasionalnya selama 3 tahun 11 bulan 15 hari (berakhir pada 29 April 2013), satelit pengamat Herschel banyak mengungkapkan temuan-temuan spesimen air di luar angkasa.

Pada November 2009 Herschel melaporkan berhasil mengidentifikasi lebih dari 60 garis uap air di sekitar bintang merah raksasa CW Leonis (IRC +10216). Oksigen yang terperangkap dalam gas CO dan SiO di sekitar bintang tersebut merupakan materi dasar pembentukan air yang kalau ia terlepas maka sangat dimungkin terbentuknya air segera setelah menyatu dengan gas Hidrogen di angkasa.

Lebih lanjut temuan tersebut sanggup disimak pada jurnal Nature edisi 467, “Warm water vapour in the sooty outflow from a luminous carbon star”.

Temuan yang lebih fenomenal ketika Herschel yang berkolaborasi dengan satelit pengamat milik NASA, Deep Impact, berhasil mengamati komet Hartley 2 (103P) yang melintas di akrab satelit Herschel pada 4 November 2011. Berdasarkan hasil pengamatan radio isotop Herschel, komet Hartley 2 yang ditemukan pada 1986 ini ternyata menyimpan reservoir air yang sangat besar berupa lapisan es di permukaannya dan cipratan uap air di sekitarnya.

Lebih lanjut ihwal temuan ini sanggup anda simak dalam jurnal Paul Hartogh et.all, “Ocean-like water in the Jupiter-family comet 103P/Hartley 2”.

Temuan ini semakin memperkuat apa yang telah difirmankan Allah 1400 tahun yang kemudian bahwa air yang ada di bumi memang diturunkan dari langit yang menurut temuan sains terbaru besar kemungkinan dibawa melalui meteor-meteor yang menghujani bumi sekitar 4-2,5 miliar tahun yang lalu.

“...dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, kemudian dengan air itu Dia hidupkan bumi setelah mati (kering)-nya...” [QS. al-Baqarah 2:164]

Belum ada Komentar untuk "Air Dari Langit"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel